|
 |
Padepokan Seni Bagong Kussudiardja
Terletak di dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, kurang lebih
10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja didirikan
oleh seniman Bagong Kussudiardja sebagai lembaga pendidikan kesenian non formal
yang sudah sejak lama diimpikannya. Bagong memang tidak sendirian. Bersama para
kreator pendukungnya mengelola Padepokan Seni, yang beberapa waktu kemudian mendapatkan
uluran bantuan dari Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) II dan Direktorat Pengembangan
Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Padepokan Seni yang berdiri di tanah seluas 4000 meter persegi itu kemudian diresmikan
pada 3 Oktober 1978.
Di tengah kesederhanaan suasana pedesaan yang mengelilingi kompleks Padepokan
Seni itu, kerja berkesenian segera berlangsung untuk mengembangkan potensi berolah
kesenian dan melakukan proses berbagi kepada bangsa dengan memberikan pendidikan,
yang kelak ikut menyumbang bagi berlangsungnya perkembangan kesenian itu sendiri.
Model proses pendidikan yang berlangsung di Padepokan Seni mendekati model pendidikan
di pesantren, yang mengutamakan unsur kekeluargaan. Hubungan dialogis dalam proses
belajar mengajar antara pembina dan para siswa Padepokan Seni, yang biasa disebut
cantrik-mentrik itu, berlangsung dalam suasana komunitas kekeluargaan. Dengan
begitu para cantrik mentrik diharapkan bisa menyerap banyak dalam proses belajar
mengajar itu
Pada masa awal, proses belajar yang diprogramkan oleh Padepokan Seni tidak lebih
dari enam bulan, tapi pengelolaan pendidikan di intitusi kesenian informal itu
agaknya sangat luwes, tergantung pada kebutuhan para cantrik pada materi pelajaran
yang diperlukan. Porsi materi pelajaran yang diajarkan di Pedepokan memang 75
persen praktek dan 25 persen. Sisanya baru teori dan pelajaran yang diberikan
terdiri dari Tari, Ketoprak – teater tradisional Jawa -, karawitan dan sinden.
Dalam perjalanannya, Padepokan Seni dengan iklim kreatif yang menghidupinya sejak
awal makin berkembang sebagai pusat pendidikan kesenian non formal sekaligus sebagai
medium ekspresi berkarya, baik bagi para cantrik-mentrik, para pembina, para kreatornya
bahkan bagi Bagong Kussudiardja sendiri. Banyak karya dilahirkan di Padepokan
Seni ini. Banyak dialog kesenian, baik yang berupa pergelaran seni eksperimen
dan work shop yang melibatkan masyarakat kreator maupun menampung kunjungan para
tamu yang ingin berakses langsung, diselenggarakan di Padepokan ini.
Setelah Bagong Kussudiardja meninggal pada 15 Juni 2004, Padepokan Seni ternyata
tidak berhenti, diteruskan atas inisiatif keluarganya dan dibantu para kreator
pendukungngnya. Sanggar Kuaetnika, Orkes Sinten Remen, OM Banter Banget dan Teater
Gandrik bergabung bersama Padepokan Seni Bagong Kussudiardja untuk bersama-sama
melakukan pengembangan kesenian, menggali dan mengolah berbagai peluang dengan
terobosan-terobosan strategis, terutama dalam menjawab berbagai kebutuhan dan
tuntutan di jaman yang tidak boleh tidak sudah mulai mengglobal.
|
  |
|

|
|