Kamis, 22 Juli 2010, 16:43 WIB
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
Minggu, 13 Sep. 2009, 20:50 WIB
Kua Etnika - Adelaide Festival Ce..
 
 
    
22 Juli 2010 - 31 Agust. 2010
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
2 Maret 2008 - 17 Mei 2008
VERTIGONG Orang Jawa Main Jazz
 
Padepokan Seni Bagong Kussudiardja

Terletak di dusun Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja didirikan oleh seniman Bagong Kussudiardja sebagai lembaga pendidikan kesenian non formal yang sudah sejak lama diimpikannya. Bagong memang tidak sendirian. Bersama para kreator pendukungnya mengelola Padepokan Seni, yang beberapa waktu kemudian mendapatkan uluran bantuan dari Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) II dan Direktorat Pengembangan Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Padepokan Seni yang berdiri di tanah seluas 4000 meter persegi itu kemudian diresmikan pada 3 Oktober 1978.

Di tengah kesederhanaan suasana pedesaan yang mengelilingi kompleks Padepokan Seni itu, kerja berkesenian segera berlangsung untuk mengembangkan potensi berolah kesenian dan melakukan proses berbagi kepada bangsa dengan memberikan pendidikan, yang kelak ikut menyumbang bagi berlangsungnya perkembangan kesenian itu sendiri. Model proses pendidikan yang berlangsung di Padepokan Seni mendekati model pendidikan di pesantren, yang mengutamakan unsur kekeluargaan. Hubungan dialogis dalam proses belajar mengajar antara pembina dan para siswa Padepokan Seni, yang biasa disebut cantrik-mentrik itu, berlangsung dalam suasana komunitas kekeluargaan. Dengan begitu para cantrik mentrik diharapkan bisa menyerap banyak dalam proses belajar mengajar itu

Pada masa awal, proses belajar yang diprogramkan oleh Padepokan Seni tidak lebih dari enam bulan, tapi pengelolaan pendidikan di intitusi kesenian informal itu agaknya sangat luwes, tergantung pada kebutuhan para cantrik pada materi pelajaran yang diperlukan. Porsi materi pelajaran yang diajarkan di Pedepokan memang 75 persen praktek dan 25 persen. Sisanya baru teori dan pelajaran yang diberikan terdiri dari Tari, Ketoprak – teater tradisional Jawa -, karawitan dan sinden. Dalam perjalanannya, Padepokan Seni dengan iklim kreatif yang menghidupinya sejak awal makin berkembang sebagai pusat pendidikan kesenian non formal sekaligus sebagai medium ekspresi berkarya, baik bagi para cantrik-mentrik, para pembina, para kreatornya bahkan bagi Bagong Kussudiardja sendiri. Banyak karya dilahirkan di Padepokan Seni ini. Banyak dialog kesenian, baik yang berupa pergelaran seni eksperimen dan work shop yang melibatkan masyarakat kreator maupun menampung kunjungan para tamu yang ingin berakses langsung, diselenggarakan di Padepokan ini.

Setelah Bagong Kussudiardja meninggal pada 15 Juni 2004, Padepokan Seni ternyata tidak berhenti, diteruskan atas inisiatif keluarganya dan dibantu para kreator pendukungngnya. Sanggar Kuaetnika, Orkes Sinten Remen, OM Banter Banget dan Teater Gandrik bergabung bersama Padepokan Seni Bagong Kussudiardja untuk bersama-sama melakukan pengembangan kesenian, menggali dan mengolah berbagai peluang dengan terobosan-terobosan strategis, terutama dalam menjawab berbagai kebutuhan dan tuntutan di jaman yang tidak boleh tidak sudah mulai mengglobal.