Kamis, 22 Juli 2010, 16:43 WIB
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
Minggu, 13 Sep. 2009, 20:50 WIB
Kua Etnika - Adelaide Festival Ce..
 
 
    
22 Juli 2010 - 31 Agust. 2010
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
2 Maret 2008 - 17 Mei 2008
VERTIGONG Orang Jawa Main Jazz
 
Tanggal 12 September 1983 momentum sangat berharga bagi Teater Gandrik, karena pada saat itulah Gandrik lahir, berdiri di Yogyakarta sebagai kelompok seni teater modern yang kemudian ikut memberi warna khas kesenian Yogyakarta. Pada waktu itu Kasiharto SH, Pak Camat Mantrijeron Yogyakarta, mengungkapkan kekagetannya ketika kelompok sandiwara yang mewakili wilayahnya itu memenangkan juara pertama Festival Pertunjukan Rakyat tingkat daerah. “Gandrik, kalian menang ta ?”. “Gandrik” yang dalam idiom budaya Jawa merupakan ungkapan kekagetan di waktu mendengar petir menggelegar - “Gandrik, putrane ki Ageng Sela” -, akhirnya nyangkut sebagai nama. Bahkan sebagai “saat-resmi” suatu kelahiran, meskipun jauh sebelumnya para awak pendukungnya telah malang melintang di dunia perteateran Yogyakarta. Gandrik menjadi muara dari sejumlah oknum, sejumlah kreativitas dan sejumlah keinginan.

“Gandrik” memang sebuah nama. Tapi dengan nama itu pula, diikutinya Festival Pertunjukan Rakyat tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Penerangan RI. Waktu itu didukung delapan orang, di antaranya Jujuk Prabowo sebagai sutradara, Heru Kesawa Murti sebagai penulis naskah cerita termasuk pemain, Novi Budianto sebagai penata musik, Saptaria Handayaningsih, Neneng Suryaningsih, Susilo Nugroho, Sepnu Heryanto dan mbah Kartono sebagai pemain. Pada sat itu menggelar lakon “Kesandung” karya Fadjar Suharno dan “Meh” karya Heru Kesawa Murti.

Festival pun selesai. Tapi Gandrik ternyata tetap berproses meladeni hasrat kreativitas yang kemudian diekspresikan melalui media televisi, TVRI Yogyakarta, Surabaya dan TVRI Pusat Jakarta. Dinamika perkembangan makin menunjukkan kegairahan ketika Mei 1985 terjadi pembenahan di badan Gandrik setelah Neneng Suryaningsih mengundurkan diri. Masuklah Butet Kartaredjasa sebagai pemain sekaligus pimpinan produksi dan dikemudian hari memimpin Gandrik hingga sekarang. G. Djaduk Ferianto terlibat merancang musik, pemain dan sutradara. Rulyani Isfihana menggantikan posisi Neneng. Jadilah sebuah tim kerja yang sangat solid dengan kesadaran berbagi yang sangat tinggi dan penuh kekeluargaan dari waktu ke waktu, sepanjang pertunjukan dari kota ke kota di Indonesia, di Singapura, Malaysia dan Australia.

Teater Gandrik memang berorientasi pada bentuk-bentuk teater rakyat dan tradisional yang tersebar di sekelililing tempat dia dilahirkan dan dibesarkan; Yogyakarta, digarap dengan sentuhan teater modern yang selama ini digauli dalam proses kreatif Gandrik yang serba melebar berkemungkinan itu. Gandrik merasa bahwa proses berkesenian yang sejak awal telah dijatuhcintai itu tidak akan mandheg, merasa harus mencari dan belajar terus menerus.

Dengan mengangkat tema-tema aktual, baik yang tengah berlangsung maupun mungkin yang bakal terjadi, Gandrik agaknya berusaha mengeliminir batas antara panggung pertunjukan dan penonton. Yang dijalin di situ adalah kehangatan, keakraban menonton dan berapresiasi dengan yang ditonton. Tanpa pretensi apa-apa, kecuali kerja berkesenian. Lakon demi lakon dan kritik yang dilontarkan disuguhkan dengan garapan segar, dengan guyon, canda dan sentilan. Dengan kata lain, bahasa pertunjukan Gandrik itu, agaknya disampaikan dengan gaya mencubit tapi tidak mendatangkan rasa sakit bagi yang dicubit. Persis yang kerap terjadi saban hari dalam komunitas budaya masyarakat Jawa. Rupanya suasana seperti itu sudah menjadi bagian integral dalam Gandrik.

Sampai sekarang, Teater Gandrik telah mementaskan lakon-lakon: Kesandung, Meh, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Flu, Kera-Kera, Juragan Abiyoso, Khayangan Goyang, Buruk Muka Cermin Dijual, Juru Kunci, Flu, Tangis, Upeti, Orde Tabung, Proyek, Brigade maling, Mas Tom, Departemen Borok