|
 |
Tanggal 12 September 1983 momentum sangat berharga bagi Teater Gandrik, karena
pada saat itulah Gandrik lahir, berdiri di Yogyakarta sebagai kelompok seni teater
modern yang kemudian ikut memberi warna khas kesenian Yogyakarta. Pada waktu itu
Kasiharto SH, Pak Camat Mantrijeron Yogyakarta, mengungkapkan kekagetannya ketika
kelompok sandiwara yang mewakili wilayahnya itu memenangkan juara pertama Festival
Pertunjukan Rakyat tingkat daerah. “Gandrik, kalian menang ta ?”.
“Gandrik” yang dalam idiom budaya Jawa merupakan ungkapan kekagetan
di waktu mendengar petir menggelegar - “Gandrik, putrane ki Ageng Sela”
-, akhirnya nyangkut sebagai nama. Bahkan sebagai “saat-resmi” suatu
kelahiran, meskipun jauh sebelumnya para awak pendukungnya telah malang melintang
di dunia perteateran Yogyakarta. Gandrik menjadi muara dari sejumlah oknum, sejumlah
kreativitas dan sejumlah keinginan.
“Gandrik” memang sebuah nama. Tapi dengan nama itu pula, diikutinya
Festival Pertunjukan Rakyat tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen
Penerangan RI. Waktu itu didukung delapan orang, di antaranya Jujuk Prabowo sebagai
sutradara, Heru Kesawa Murti sebagai penulis naskah cerita termasuk pemain, Novi
Budianto sebagai penata musik, Saptaria Handayaningsih, Neneng Suryaningsih, Susilo
Nugroho, Sepnu Heryanto dan mbah Kartono sebagai pemain. Pada sat itu menggelar
lakon “Kesandung” karya Fadjar Suharno dan “Meh” karya
Heru Kesawa Murti.
Festival pun selesai. Tapi Gandrik ternyata tetap berproses meladeni hasrat kreativitas
yang kemudian diekspresikan melalui media televisi, TVRI Yogyakarta, Surabaya
dan TVRI Pusat Jakarta. Dinamika perkembangan makin menunjukkan kegairahan ketika
Mei 1985 terjadi pembenahan di badan Gandrik setelah Neneng Suryaningsih mengundurkan
diri. Masuklah Butet Kartaredjasa sebagai pemain sekaligus pimpinan produksi dan
dikemudian hari memimpin Gandrik hingga sekarang. G. Djaduk Ferianto terlibat
merancang musik, pemain dan sutradara. Rulyani Isfihana menggantikan posisi Neneng.
Jadilah sebuah tim kerja yang sangat solid dengan kesadaran berbagi yang sangat
tinggi dan penuh kekeluargaan dari waktu ke waktu, sepanjang pertunjukan dari
kota ke kota di Indonesia, di Singapura, Malaysia dan Australia.
Teater Gandrik memang berorientasi pada bentuk-bentuk teater rakyat dan tradisional
yang tersebar di sekelililing tempat dia dilahirkan dan dibesarkan; Yogyakarta,
digarap dengan sentuhan teater modern yang selama ini digauli dalam proses kreatif
Gandrik yang serba melebar berkemungkinan itu. Gandrik merasa bahwa proses berkesenian
yang sejak awal telah dijatuhcintai itu tidak akan mandheg, merasa harus mencari
dan belajar terus menerus.
Dengan mengangkat tema-tema aktual, baik yang tengah berlangsung maupun mungkin
yang bakal terjadi, Gandrik agaknya berusaha mengeliminir batas antara panggung
pertunjukan dan penonton. Yang dijalin di situ adalah kehangatan, keakraban menonton
dan berapresiasi dengan yang ditonton. Tanpa pretensi apa-apa, kecuali kerja berkesenian.
Lakon demi lakon dan kritik yang dilontarkan disuguhkan dengan garapan segar,
dengan guyon, canda dan sentilan. Dengan kata lain, bahasa pertunjukan Gandrik
itu, agaknya disampaikan dengan gaya mencubit tapi tidak mendatangkan rasa sakit
bagi yang dicubit. Persis yang kerap terjadi saban hari dalam komunitas budaya
masyarakat Jawa. Rupanya suasana seperti itu sudah menjadi bagian integral dalam
Gandrik.
Sampai sekarang, Teater Gandrik telah mementaskan lakon-lakon: Kesandung,
Meh, Pasar Seret, Pensiunan, Sinden, Isyu, Dhemit, Flu, Kera-Kera, Juragan Abiyoso,
Khayangan Goyang, Buruk Muka Cermin Dijual, Juru Kunci, Flu, Tangis, Upeti, Orde
Tabung, Proyek, Brigade maling, Mas Tom, Departemen Borok
|
  |
|

|
|