|
 |
Monolog ”Sarimin” Butet Kartaredjasa Selasa, 4 Des. 2007, 17:30 WIB
Menutup 2007, Jawa Pos kembali menyuguhkan
tontonan hiburan apresiatif: monolog Butet Kartaredjasa. Kali ini raja
monolog Indonesia itu akan membawakan lakon satire Sarimin karya Agus
Noor. Pentas bakal diadakan di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa
Timur, pada 14-15 Desember mendatang.
Penampilan Sarimin di
Surabaya itu adalah pentas kali ketiga. Sebelumnya, Butet sukses
menampilkan lakon penuh sindiran dan gelak tawa itu di Graha Bakti
Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada 14-18 November lalu. Pentas
tersebut merupakan bagian dari Art Summit Indonesia V-2007. Setelah
itu, teaterawan 46 tahun asal Jogjakarta itu juga memboyong Sarimin di
Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM (Purna Budaya) Jogjakarta
pada 26-27 November.
Pada Februari 2006, Butet tampil di
Gedung Cak Durasim dengan lakon Matinya Toekang Kritik juga karya Agus
Noor. Ribuan penonton menyaksikan penampilan putra mendiang seniman
serbabisa Bagong Kussudiardja tersebut.
Butet mengaku rindu
menjadikan teater sebagai media terbuka yang memungkinkan adanya
interaksi lintas disiplin. Karena itu, lewat Sarimin, dia berharap
kerinduan tersebut bisa terwujud.
"Lakon ini mewadahi hampir seluruh kebutuhan berteater saya," ungkapnya.
Monolog
Sarimin memotret carut-marut praktik hukum di negeri ini. Butet yang
belakangan populer dengan julukan "SBY" alias Si Butet Yogya tidak
hanya bekerja sama dengan teman seangkatannya yang selama ini
berkolaborasi dengannya. Seperti dengan adiknya, Djaduk Ferianto, Agus
Noor, dan Ong Harry Wahyu. Dia juga melibatkan pekerja seni lebih muda,
seperti Marzooki yang populer dengan julukan Kill The DJ sebagai
"pengontrol dramatik" yang bertugas semacam penyutradaraan. Dia juga
menggandeng Pradjoto dan Luhut M. Pangaribuan, pengamat dan praktisi
hukum sebagai narasumber.
"Memperlakukan teater dengan cara
begini mungkin bukan sesuatu yang baru dan sudah biasa dilakukan para
senior saya," ujar Butet. "Saya hanya ingin mendapatkan pengalaman baru
dalam penciptaan. Dengan spirit lintas disiplin dan lintas generasi,
diharapkan bisa lahir kemungkinan-kemungkinan artistik yang tak
terduga. Dengan terlibatnya praktisi di luar dunia teater, sebuah
ekspresi kesenian bukan sekadar perjuangan estetika. Tapi, juga
merupakan ikhtiar berkomunikasi sekaligus perjuangan sosial," tambah
dramawan "ndesit" yang belakangan sering menjadi "bintang tamu"
pementasan Teater Koma itu.
Diangkatnya persoalan hukum bertolak
dari keprihatinan atas kondisi hukum yang memerosotkan moralitas para
praktisi hukum. Sepertinya tak ada lagi rasa malu, bahkan praktik yang
paling menjijikkan bisa terjadi secara telanjang.
Monolog
Sarimin yang musiknya digarap Djaduk Ferianto tersebut mencoba
menceritakan berbagai gagasan dan pemikiran untuk mengingatkan kembali
masalah gawat yang terjadi di dunia hukum. Kisah Sarimin, menurut
Butet, adalah cerita orang jujur yang menjadi tukang monyet keliling
yang terserimpung oleh keluguan dan kejujurannya sendiri. Niat baik
untuk tertib hukum malah membuatnya terperosok ke dalam penjara dan
terancam pasal-pasal tuntutan yang mematikan nasibnya.
"Saya
tidak mau ngecap. Tapi, lakon ini tidak kalah asyik dibandingken lakon
sebelumnya, Matinya Toekang Kritik," ujar Butet. (ari)
Viewed: 2953 Kirim ke teman
|
  |
|

|
|