Kamis, 22 Juli 2010, 16:43 WIB
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
Minggu, 13 Sep. 2009, 20:50 WIB
Kua Etnika - Adelaide Festival Ce..
 
 
    
22 Juli 2010 - 31 Agust. 2010
KUAETNIKA - NUSASWARA
 
2 Maret 2008 - 17 Mei 2008
VERTIGONG Orang Jawa Main Jazz
 
BACK TO INDEX

Monolog ”Sarimin” Butet Kartaredjasa
Selasa, 4 Des. 2007, 17:30 WIB


 Menutup 2007, Jawa Pos kembali menyuguhkan tontonan hiburan apresiatif: monolog Butet Kartaredjasa. Kali ini raja monolog Indonesia itu akan membawakan lakon satire Sarimin karya Agus Noor. Pentas bakal diadakan di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, pada 14-15 Desember mendatang.

Penampilan Sarimin di Surabaya itu adalah pentas kali ketiga. Sebelumnya, Butet sukses menampilkan lakon penuh sindiran dan gelak tawa itu di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, pada 14-18 November lalu. Pentas tersebut merupakan bagian dari Art Summit Indonesia V-2007. Setelah itu, teaterawan 46 tahun asal Jogjakarta itu juga memboyong Sarimin di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM (Purna Budaya) Jogjakarta pada 26-27 November.

Pada Februari 2006, Butet tampil di Gedung Cak Durasim dengan lakon Matinya Toekang Kritik juga karya Agus Noor. Ribuan penonton menyaksikan penampilan putra mendiang seniman serbabisa Bagong Kussudiardja tersebut.

Butet mengaku rindu menjadikan teater sebagai media terbuka yang memungkinkan adanya interaksi lintas disiplin. Karena itu, lewat Sarimin, dia berharap kerinduan tersebut bisa terwujud.

"Lakon ini mewadahi hampir seluruh kebutuhan berteater saya," ungkapnya.

Monolog Sarimin memotret carut-marut praktik hukum di negeri ini. Butet yang belakangan populer dengan julukan "SBY" alias Si Butet Yogya tidak hanya bekerja sama dengan teman seangkatannya yang selama ini berkolaborasi dengannya. Seperti dengan adiknya, Djaduk Ferianto, Agus Noor, dan Ong Harry Wahyu. Dia juga melibatkan pekerja seni lebih muda, seperti Marzooki yang populer dengan julukan Kill The DJ sebagai "pengontrol dramatik" yang bertugas semacam penyutradaraan. Dia juga menggandeng Pradjoto dan Luhut M. Pangaribuan, pengamat dan praktisi hukum sebagai narasumber.

"Memperlakukan teater dengan cara begini mungkin bukan sesuatu yang baru dan sudah biasa dilakukan para senior saya," ujar Butet. "Saya hanya ingin mendapatkan pengalaman baru dalam penciptaan. Dengan spirit lintas disiplin dan lintas generasi, diharapkan bisa lahir kemungkinan-kemungkinan artistik yang tak terduga. Dengan terlibatnya praktisi di luar dunia teater, sebuah ekspresi kesenian bukan sekadar perjuangan estetika. Tapi, juga merupakan ikhtiar berkomunikasi sekaligus perjuangan sosial," tambah dramawan "ndesit" yang belakangan sering menjadi "bintang tamu" pementasan Teater Koma itu.

Diangkatnya persoalan hukum bertolak dari keprihatinan atas kondisi hukum yang memerosotkan moralitas para praktisi hukum. Sepertinya tak ada lagi rasa malu, bahkan praktik yang paling menjijikkan bisa terjadi secara telanjang.

Monolog Sarimin yang musiknya digarap Djaduk Ferianto tersebut mencoba menceritakan berbagai gagasan dan pemikiran untuk mengingatkan kembali masalah gawat yang terjadi di dunia hukum. Kisah Sarimin, menurut Butet, adalah cerita orang jujur yang menjadi tukang monyet keliling yang terserimpung oleh keluguan dan kejujurannya sendiri. Niat baik untuk tertib hukum malah membuatnya terperosok ke dalam penjara dan terancam pasal-pasal tuntutan yang mematikan nasibnya.

"Saya tidak mau ngecap. Tapi, lakon ini tidak kalah asyik dibandingken lakon sebelumnya, Matinya Toekang Kritik," ujar Butet. (ari)

Viewed: 2953
Kirim ke teman